Terkadang manusia cepat sekali menilai temannya, temannya yang satu lagi, teman yang ternyata juga teman dari temannya. Tapi bukankah sering kali kita juga sadar bahwa diri kita sendiri kadang berubah, bisa berubah, masih bisa diubah.

Lalu bagaimana mungkin kita cepat menyimpulkan seseorang?

Bukankan setiap manusia itu dalam proses belajar. Hari ini salah besok bisa lebih baik dari kita. Hari ini lebih baik dari kita besok bisa melakukan kesalahan.

Bukankah dalam proses belajarnya ga semua orang tahu. Misalnya ketika kamu melihatnya sekarang baik belum tentu dari dulu ia adalah seorang yang baik. Dan sebaliknya ketika kamu melihat ia sekarang salah bisa jadi sebelumnya dan sesudahnya ia akan memperbaikinya.

Lalu bagaimana munkin kita cepat menyimpulkan seseorang?

Bagi saya disinilah peran seorang teman diperlukan. Sama seperti basa basi diawal tulisan ilmiah bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.
Seorang teman yang diandalkan layaknya bel sekolah yang mengingatkan jam istirahat sudah berakhir.
Seorang teman yang selalu ada mengingatkan batasan akan setiap hal yang kita lakukan. Batasan yang sepertinya paling baik bagi temannya. Seorang teman who take the good with the bad.
Seorang teman yang jika temannya salah bukan dijauhi tapi diingatkan agar ia memperbaikinya. Dan selama temannya belum sadar ia tidak akan cepat-cepat menyimpulkan karena ia tahu saat ia salah, temannya juga sabar menunggunya tersadar.

Karena Ia tahu sebagai manusia Ia juga kerap lalai bahwa selalu ada batasan tiap kesenangan. Selalu ada batasan dari setiap kesedihan. Selalu ada batasan dari setiap kesabaran dan selalu ada batasan dari setiap keluhan.

Advertisements