Aku rindu jalan pulang.

Meski jalan itu samar dengan cahaya yang remang.

Jalan pulang, dimana aku bisa menikmati kebiasaan lamaku.

Bermain figur, mendengar polos anak-anak, menggunting kertas, dan menyusun balok.

Menemani saat yang kecil takut, menenangkan saat yang besar bertengkar.

Jalan pulang, dimana hanya sedikit manusia berwajah kaca.

Jalan pulang juga merindukanku. Meski ia tak bisa memberi rambu-rambu.

Disini, tak seperti disana.

Disini banyak ambisi, banyak malu jika tak punya sesuatu.

Disini tak menerima yang sederhana.

Meski banyak samar dan sesaat, disini menekanku menjadi yang hebat.

Disinipun aku belajar satu tambah satu bukan sama dengan dua.

Yang abstrak dibuat begitu ada. Nyata di depan mata.

Kerap terkejut memang, namun kemudian terbiasa.

Nanti, saat sudah menjadi yang bisa. aku akan kembali pulang.

Karena disini sepi tetap sepi. Lelah tetap tak enak tidur. Lapar tetap tak enak makan.

Aku akan kembali pulang, sebagai aku yang selalu dulu.

Aku tak suka disini terlalu tak ada batas.

Aku suka disana banyak orang bisa tertawa lepas,

banyak orang tersenyum lega,

banyak orang tak sungkan minta dijaga.

Masih ada, jalan pulang.

 

Advertisements