debateKurang  dari  20 hari  lagi Indonesia akan menentukan calon pemimpinnya. Masyarakat dihadapkan  pada  dua  pasangan  capres/cawapres. Pasangan  Joko Widodo- Jusuf Kalla yang kerap dilekatkan pada sikap blusukan dan merakyat, dan Prabowo-Hatta dengan sikap tegas dan beraninya. Kedua pasangan ini melalui serangkaian proses panjang saling  bertarung  untuk  memperoleh  suara terbanyak masyarakat Indonesia pada 9 Juli nanti.

Salah satunya melalui serangkaian debat yang diadakan setiap 1 minggu sekali oleh KPU. Suara  sorak  sorai  demokrasi pun kian terasa  dari  berbagai sendi masyarakat Indonesia. Kicauan di berbagai social media dan pojok-pojok diskusi mengiringi ramainya Debat capres/cawapres yang sudah memasuki tahap tiga (22/6/2014).

Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008,  debat bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang visi dan misi kandidat.  Debat diarahkan sebagai momentum politik  untuk  mempengaruhi  suara pemilih.  Seperti yang dikatakan Bergman and Wickert (1999) dalam Nursal (2004), “the leading candidate is the platform”  menyebutkan  bahwa seorang pemilih akan membuat satu keputusan untuk menggunakan hak pilihnya karena beberapa hal: Yaitu, karena  adanya rasa ketertarikan dan kepuasan terhadap kandidat.  Selanjutnya, karena  tayangan  media yang menyajikan hal-hal positif yang dilakukan partai politik. Dan keyakinan bahwa proses pemilihan pemimpin politik dianggap sama pentingnya  dengan proses pengawasan. Keyakinan ini menjadi penting sebagai bukti bahwa masyarakat tidak apatis, atau tidak pesimis terhadap proses pemilihan pemimpin politik.

Dengan demikian, ajang ini harus benar-benar dimanfaatkan oleh masing-masing kandidat.  Pertama, untuk menawarkan ide/gagasannya secara nyata pada seluruh lapisan masyarakat Indonesia.  Mengingat masih sebesar 61% masyarakat belum mengetahui visi-misi kandidat capres-cawapres (Survey: Poltracking Juni 2014) sementara visi-misi dan program kerja yang ditawarkan dan rekam jejak kepemimpinan merupakan variable utama yang paling penting untuk diketahui publik.

Kedua, mengklarifikasi seluruh pemberitaan negatif tentang ketokohan mereka di media, sesuai dengan tema debat.  Ketiga, menunjukan karakter mereka melalui gesture dan pemilihan kata yang digunakan masing-masing kandidat. 

Undecided voters

Jika debat dapat dijadikan momentum meraih suara pemilih, maka kelompok yang menjadi sasaran utama pastinya adalah kelompok yang belum menentukan pilihannya/ undecided voters.

Menurut hasil survei nasional yang dilaksanakan pada 26 Mei – 3 Juni 2014 secara serempak di 33 provisi di seluruh Indonesia oleh Poltracking Instititute, masih sebanyak 10,4% merupakan undecided voters.  Kelompok ini yang harusnyanya menjadi perhatian utama para kandidat, mengingat selisih elektabilitas yang diumumkan oleh berbagai lembaga survey terhadap  kedua kandidat semakin tipis, yaitu sekitar 7,4% (Survey: Poltracking Institute, Juni 2014)

Debat sebagai suatu momentum politik yang sangat mempengaruhi arah pilihan para undecided voters. Terutama dalam merasionalisasi gagasan/ ide yang ditawarkan para kandidat. Namun dalam memahami undecided voters menurut saya ada tipe-tipe undecided voters.

Yang pertama adalah Undecided voters Kritis, ini merupakan orang-orang yang belum menentukan pilihannya namun mereka masih dalam proses merasionalisasi ketokohan para kandidat capres-cawapres. Undecided voters kritis ini masih menimbang-nimbang secara rasional antara pilihan capres/cawapres  yang ada sebelum ia benar-benar menentukan pilihannya. Kelompok ini tidak mentah-mentah menerima pemberitaan maupun gagasan yang ditawarkan para kandidat tetapi juga mengkritisi kaitannya dengan track record  masing-masing kandidat dan kesesuaian program yang ditawarkan.Mereka bahkan akan mengkaji jawaban debat setiap kandidat apakah sesuai dengan kondisi real di Indonesia, mereka juga kritis melihat gesture dan penggunaan kata yang digunakan oleh masing-masing kandidat. Ada sebagian dari mereka yang kemudian menyasarkan argunmennya dalam berbagai social media. Sehingga efeknya akan lebih besar, karena kemudian dapat mempengaruhi pemilih yang lain

Tipe kedua adalah Undecided voters Apatis. Kelompok ini meski belum menentukan arah pilihannya, mereka tidak memperdulikan berita apalagi proses debat kandidat capres-cawapres.  Kelompok ini tidak  mencoba mencari tahu karena memang tidak tertarik dan tidak mencoba untuk tertarik.Kelompok ini yang nantinya cenderung tidak menentukan pilihannya hingga  proses  pemilihan / cenderung  golput.  Ada banyak faktor yang menjadikan para pemilih ini apatis diantaranya adalah maraknya black campaign  terhadap kedua kandidat. Kelompok ini adalah orang yang awam politik  mereka tidak akan mencoba merasionalisasi  atau mengkritisi visi-misi kandidat capres/cawapres yang ada. Proses debat justru dilihat sinis oleh para undecided voters apatis sebagai ajang obral janji para kandidat. Kalangan  ini  pesimis  terhadap para kandidat capres-cawapres, mereka memandang para elit politik jauh diatas sana sehingga tidak akan memberikan perubahan berarti bagi sendi kehidupan mereka nantinya. Kalangan ini memang dari awal memiliki tingkat partisipasi politik  yang rendah, biasanya  terdapat  pada  masyarakat  ekonomi  kelas bawah. Boro-boro mau memikirkan politik, mereka sendiri kerap menjadi korban dari kebijakan politik.

Kesimpulannya, Debat dapat dijadikan alat yang paling ampuh digunakan dalam mempengaruhi arah pilihan para undecided voters kritis. Namun untuk undecided voters apatis strategi yang paling mujarab adalah strategi-strategi yang langsung menjawab kepesimisan mereka meskipun tidak berkelanjutan seperti ”serangan fajar”.

Akhirnya, seluruh rangkaian kontes masing-masing kandidat semoga tidak hanya dijadikan sebagai ajang dramturgi di depan panggung politik. Biar bagaimana masyarakat Indonesia tetap mendambakan pemimpin yang bersih dan jujur, yang mampu merealisasi janji-janjinya demi keuntungan Indonesia baru.

*dimuat di Solo Pos, Juni 2014

Advertisements