Saya berharap diberi ruang. Bukan karena anak, keluarga atau titipan. InsyaAllah saya akan lakukan sebaik-baiknya.

Begitulah ungkapan Puan Maharani dalam salah satu artikel Koran Sindo (Selasa, 28 Okt 2014).  Nampaknya, anak ketiga presiden kelima RI ini menyadari adanya keraguan publik terhadap terpilihnya Ia sebagai Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK. Pasalnya, banyak pihak yang mempertanyakan kapasitas dan kompetensi Mbak Puan (begitulah sapaan akrabnya) dalam pasukan Kabinet Kerja Jokowi-JK ini. Banyak pihak justru menilai posisinya ini hanyalah titipan dari sang Ibunda, Megawati. Puan dianggap belum memiliki jejak yang mumpuni dalam menangani kompleksitas permasalahan negara.

Lalu bagaimanakah sebenarnya rekam jejak Puan Maharani? Puan Maharani mulai aktif mengikuti jejak Ibunya dalam dunia politik sejak lulus kuliah Komunikasi Massa di  FISIP UI. Berbekal ilmu dan pengalaman inilah Puan banyak belajar menjadi politisi handal dan mengedepankan kepentingan rakyat. Sejak tahun 2004 Puan aktif dalam ritus kampanye untuk pemenangan ibundanya melalui Mega Centre, sebagai sebuah lembaga pemenangan Megawati berpasangan dengan KH. Hasyim Muzadi, kala itu. Dari sinilah pengalaman lobi politik Puan diasah.

Tepatnya tahun 2006, Puan mulai menyentuh aktifitas politik praktis sebagai anggota DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di bidang luar negri. Melalui KNPI ini Puan berhasil membuktikan bakat dan kiprah politiknya sebelum benar-benar masuk sebagai anggota partai besutan Ibundanya. Hingga, di tahun 2009 Puan berhasil memenangkan salah satu jatah kursi DPR dari PDI-P Daerah pemilihan Jawa Tengah V untuk periode 2009-2014 karena berhasil memperoleh suara terbanyak kedua tingkat nasional. Pencapaian ini dianggap tidak begitu saja diraihnya melainkan  berdasarkan perjuanganya selama ini menanam investasi sosial melaui kegiatannya mendampingi Ibundanya ke daerah-daerah yang kala itu juga sebagai Ketua DPP Bidang Politik dan Hubungan Antar Lembaga di partainya. Selanjutnya Puan juga menududuki Komisi 1 DPR RI yang membidani masalah pertahanan dan luar negeri. Jabatan-jabatan strategis lain yang pernah menjadi tanggung jawabnya seperti Anggota Panja Komisi VI Bidang Investasi dan UKM tahun 2009, Anggota BKSAP/Badan Kerjasama Antarparlemen (periode 2009-2014), Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRRI (Periode 2009-2014). (Sumber: Jejak Para Pemimpin, 2014)

4 hal yang sangat melekat pada Puan Maharani yaitu sebagai Anak & Cucu Presiden RI, tokoh muda Indonesia, legislator PDIP dan seorang perempuan yang memiliki minat kuat di Politik. Sosoknya sebagai seorang perempuan yang merepresentasikan kepentingan kaum minoritas dan kiprahnya di DPR terus merajut popularitasnya. Gayanya yang tak jauh berbeda dengan Ibundanya dalam bertutur kata lembut, sistematis dan tegas ditambah tak ada satu kasus korupsi yang melekat pada namanya menjadikan Puan Maharani dikenal sebagai politikus muda perempuan yang cerdas, konsisten dan bersih.

Hal ini lah yang kemudian menghantarkan Puan masuk dalam formasi Kabinet Kerja pimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla.  Meskipun karir politiknya berjalan mulus, baru kali ini Ia menduduki Jabatan pemerintahan. Oleh karena itu, hal ini sebaiknya dijadikan momentum pembuktian dirinya untuk menjawab keraguan rakyat mengenai kapasistasnya melaui pengabdian dan aksi nyata.  Apalagi sebagai Menko bidang pembangunan Manusia dan Kebudayaan sebagai salah satu kunci strategis Puan dalam membangun  keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat sebagai suatu yang selama ini Ia perjuangnkan. Puan harus tepat mengimplementasikan visi-misi pemerintahan Jokowi-JK yang juga merupakan salah satu kunci pembuktian kesungguhannya dalam mengabdi pada partainya agar membuahkan hasil pada Pemilu 2019 nanti. Sesuai namanya Kabinet Kerja, hendaknya orang-orang didalamnya mampu secara aplikatif menjawab ekspekatasi Presiden dan Publik terhadap kinerja mereka. Selamat membuktikan.

Advertisements