Di pinggir kolam renang.. pembicaraan mengenai done is better than good pun menjadi begitu panjang.

Aku bersikukuh, itu tergantung konteks personal masing-masing orang. Di satu sisi, itu jadi suatu hal yang sangat membantu pada orang-orang yang sangat perfeksionis dalam apapun… kind of perfect in every detail things-person… yang akhirnya lemah execute segala sesuatu, yang akhirnya takes time terhadap apapun yg dikerjakan cuma karena ingin.. SEMPURNA. Maka satu-satunya jalan untuk itu adalah menyelesaikannya.. Just get it done. It doesn’t have to be immaculate; it just has to get done. BAIK segimanapun kalau ga selesai.. ga ada eksekusi ..would be nothin toh?

Sebaliknya kalo konteksnya adalah orang yang menggampangkan segala sesuatunya terutama hal-hal kecil, ini akan jadi semakin bencana. Alih-alih memperbaiki segala sesuatunya.. yang penting selesai.. yes! Selesai…  (namun kosong) ga beda.. sama saja… ndak memberi lebih dari yang biasa orang lain kerjakan. sama kaya yang mengejar achievment di banyak circle tapi

Ada satu philosopy jepang “wabi-sabi”, yang artinya ‘the imperfection perfection‘; mereka bilang hanya tuhan yang menjanjikan kesempurnaan. Kita dipaksa belajar mensyukuri kekurangan yang justru akan menjadikan kesempurnaan itu sendiri. :”) setiap orang punya caranya sih.. cara bersyukur, cara mencintai ketidaksempurnaan.Yes! we have to learn how to love our imperfections..

Tetap yakini… tak ada yg sempurna, namun berusahalah memberikan setiap sesuatu yang kamu kerjakan dengan sebaik munkin. Sesuai porsimu. Tak akan pernah ada ruginya memang. Tetap! lakukan pengukuran prioritas pada yang mana  memerlukan fokus (terhadap detail)  berlebihanmu itu.

Advertisements